Conscious Stream of Writing

Untitled 001

Mortimer J. Adler benar ketika dia bilang membaca untuk mendapatkan pemahaman itu berbeda dengan membaca untuk mendapatkan informasi. Ketika membaca untuk mendapatkan pemahaman, kita harus memilih buku yang punya tingkatan lebih tinggi dari kita. Eh, bukankah itu justru bikin kita gak paham ya, dim? Nah, di sini kuncinya. Ketika kita mencoba memahami lalu menemukan kesulitan, maka disarankan membawa buku itu kepada “pihak” yang lebih paham. Pihak yang dimaksud tidak harus manusia yang masih hidup (guru), karena ga semua dari kita punya akses kesana. Pihak yang lebih paham ini bisa berupa buku juga. Adler menyebutnya dengan, learning by discovery.

Sh. Hamza Yusuf menyangkutkan konsep ini dengan kisah Ibnu Sina. Pada suatu masa, Ibnu Sina mencoba memahami konsep-konsep filsafat Aristoteles, berkali-kali ia membaca namun tidak dapat memahaminya. Hingga suatu hari ia melewati pedagang buku yang seketika menawarkannya sebuah kitab karya Al-Farabi. Setelah membaca kitab tersebut, akhirnya Ibnu Sina menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama itu ia cari.

Buku-buku pada foto di atas menyimpan sebuah cerita yang serupa. Awalnya saya ditugaskan oleh Ustadz Akmal untuk membaca buku Tren Pluralisme Agama karya Dr. Anis Malik Thoha. Benar saja, dengan keterbatasan dan lusuhnya kebersihan jiwa saya, makna yang sampai tak seberapa. Sempat beberapa pekan usaha memahami buku ini terhenti. Hingga akhirnya rekan belajar saya di Cadik, Zakiyus Shadicky, menyarankan untuk melakukan literatur review. Akhirnya saya mencari referensi-referensi lain. Untuk memahami isinya, saya butuh tiga buku yang lain. Buku karya Ustadz Akmal, Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme banyak mengutip dan memparafrasekan buku Ust Anis. Kenapa Islam, Menyanggah Pegangan Kaum Pluralis karya Md. Asham Ahmad, concisely breaks the syak. Pemaparan Konsep Din yang ringkas dan tepat sasaran, meruntuhkan argumen-argumen pluralisme agama John Hick dan Seyyed Hossein Nasr. Buku terakhir, Pluralisme Agama: Suatu Penelitian Islami yang ditulis secara kolektif oleh pakar-pakar seperti Mohd Farid Mohd Shahran, Dr Anis Malik Thoha, Dr. Syamsudin Arif, dan kawan-kawan, justru yang paling mutakhir yang memaparkan penemuan-penemuan baru.

Model pembacaan seperti ini oleh Adler dikategorikan sebagai Syntopical Reading. Membaca lebih dari satu buku yang memiliki topik serupa. Sulit dan memakan waktu memang. Apalagi kalau untuk diadu dengan book reviewer, bookstagramer, dan netizen Goodreads. Tapi, kenikmatannya juga beda.

Dimas Wichaksono has an Associate Degree in Cultural Tourism from the University of Indonesia. He studied at Sekolah Pemikiran Islam and currently completing his Bachelors's in Islamic Psychology at Islamic Online University. He is a fellow Penstudi of @cadikindonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *