fatherman
Buku,  Mukhtasar,  Review

Solusi Praktis Bagi Fatherless Country

Fatherless dapat dipahami sebagai ketiadaan figur atau peran ayah dalam kehidupan seorang anak. Hal ini tidak hanya dialami anak-anak yatim namun juga pada anak-anak yang tidak memiliki kedekatan dengan ayahnya. Karean fatherless dapat berupa ketidakhadiran secara fisik atau psikologis dalam kehidupan anak. Hal ini dapat disebabkan oleh perceraian, kematian ayah, perpisahan oleh karena permasalahan dalam hubungan pernikahan, atau perpisahan oleh karena permasalahan kesehatan fisik atau psikologis masing-masing. (Sundari, A.R., Herdajani, F. 2013)

Pada tahun 2012, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan maraknya kekerasan terhadap anak belakangan ini hendaknya menjadi instrospeksi bagi seluruh pihak, khususnya para orang tua, ayah dan ibu, mengingat Indonesia saat ini termasuk negara nomor tiga di dunia yang termasuk ‘fatherless country’. (Warta Ekonomi, 2013)

Dampak Fatherless Terhadap Psikologis Anak (Sundari, A.R., Herdajani, F. 2013)

  • Berisiko terjadinya juvenile delinquent atau drop out dari sekolah, khususnya pada anak laki-laki,
  • meningkatnya agresifitas,
  • rendahnya kemampuan berbahasa,
  • penurunan performa kognitif,
  • anxiety dan depresi,
  • hubungan seksual usia dini,
  • penyalahgunaan obat-obatan, gangguan mood, dan terlibat kenakalan serius ataupun tindakan kriminal,
  • melahirkan peningkatan konflik gender pada anak, dan kebingungan akan identitas gender,
  • peningkatan yang cukup signifikan akan terjadinya perilaku homoseksual di kalangan pria maupun wanita,
  • penurunan atau rendahnya tingkat harga diri pada anak
  • menimbulkan perasaan kehilangan (feeling lost) pada anak

Jelah hal-hal diatas bukanlah yang kita inginkan.

Solusi Praktis: Fatherman

Fatherman

Belum lama ini, Ustadz Bendri baru saja meluncurkan buku bertemakan Fatherman: Ayah tidak selalu hadir setiap saat, Tapi selalu ada di waktu yang tepat.

Dalam buku Fatherman, Ajo Bendri menekankan tanggung jawab ayah tak hanya mencari nafkah tapi juga mendidik dan mengurus keluarga. Ayah bertanggungjawab menjaga fitrah anak dari serangan-serangan seperti ngondek, pacaran, zina bahkan LGBT.

Namun terlibat dalam mendidik dan pengasuhan bukan berarti resign. Kuncinya adalah selalu hadir di waktu yang tepat.

Ustadz Bendri memetakannya dengan Konsep Topi. Ayah harus menguasai dan menggunakan topi perannya dalam waktu dan momen-momen tertentu. Topi Konselor, Topi Guru, Topi Pengasuh, Topi Motivator, Topi Entertainer, Topi Promotor/Distributor, dan tak lupa Topi Donor/Donatur.

Kesemua topi atau peran tersebut bermuara pada satu tujuan, yakni memikat hati.

“Karean hati adalah raja di dalam tubuh manusia.”

Buku praktis ini dapat diselesaikan dalam waktu dua jam. Karena isinya yang ringan dan aplikatif, serta didukung oleh roadshow kajian dengan tema serupa.

Buku Fatherman beriskan hal-hal yang langsung dapat dipraktikan seperti; sering memeluk anak, mengungkapkan cinta kepada anak secara rahasi, dan mendoakan anak secara terbuka.

Topi dan Waktu yang Tepat

Ketika anak sedang sedih & sakit adalah momen yang tepat bagi ayah untuk menggunakan topi Konselor. Dalam memerankan tugas ini sang ayah harus sedikit bicara dan banyak mendengar.

Peran dengan Topi Motivator tidak hanya membutuhkan momentum yang tepat agar efektif, juga membutuhkan kredibelitas agar tetap menjadi teladan.

Menggunakan Topi Entertainer bukan berarti menjadi badut atau stand up comedian, apalagi menjadi pelawak slapstick a ala opera van java. Bukan. Konsep utama menjadi ayah yang menghibur adalah memiliki kemampuan mengatur irama keluarga agar dinamis dan penuh kejutan. Agar tidak jenuh, ayah juga bisa memfasilitasi hobi anak-anak dan mengapresiasi kesenangan mereka.

Bermain bersama juga menjadi agenda ayah dalam peran menghiburnya. Syaratnya bermain dengan serius, minimalisir penggunaan media, fokus pada kebersamaan dibandingakn kemenangan, dan perbanyak kontak fisik. Berikan juga hadiah kejutan setelah bermain.

Trik menghibur selanjutnya adalah bercerita atau story telling. Di kesempatan lain ayah dan anak-anak juga bisa melakuan BBM (Bermain, Bercerita, dan Menjelajah)

Menggunakan Topi Donatur tidak harus muluk-muluk. Cukup dengan memberikan hadiah-hadiah sederhana atau variatif.

Topi Guru harus ada usaha dan kuota lebih. Terutama di era pertarungahninformasi seperti saat ini. Ayah dituntut serba tahu sehingga menjadi tempat bertanya bagi anak-anak. Pencapaiannya adalah ketika anak mengucapkan, “tanya ayah aja!” Catatan pentingnya adalah, ayah gaboleh asbun (asal bunyi), nanti bisa mengurangi kredibelitas.
Dan jangan asal jawab juga, biasakan untuk double check pertanyaan yang dimaksud agar gak salah sambung.

Topi Promosi tidak kalah penting. Ayah harus keluarkan skill jualannya. Menjual kelebihan anak kepada kerabat, tetangga, bahkan kolega. Syarat utamanya adalah ayah harus kenal betul dengan anak. Kalau ayah yang dengan inisiatif mempromosikan anaknya, sang anak akan jauh dari sifat caper ke orang lain.

Topi Pengasuh adalah topi yang tidak dilepas sepanjang hidup. Peran pengasuhan tak kenal usia. Sampai ketika anak-anak sudah menjadi orangtua pun, ayah tetap pengasuh mereka. Pengasuhan ibarat bertani: Sabar, Sungguh-sungguh, dan Tekun.

Sudah siap jadi Fatherman?

Fatherman
Source: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *