Al-Hikam Ibn 'Attaillah,  Ihsan,  Purification of the Heart,  Tasawuf,  Tazkiyatun Nafs

Al-Hikam Ibn ‘Attaillah – Notes #02

Your desire for isolation, even though God has put you in the world to gain a living, is a hidden passion. And your desire to gain a living in the world, even though God has put you in isolation is comedown from a lofty aspiration.

“Hasratmu untuk menetapi tajrîd sedangkan Allah menempatkanmu pada kedudukan asbâb adalah syahwat yang samar. Sebaliknya, hasratmu terhadap asbâb padahal Allah telah menempatkanmu pada posisi tajrîd adalah wujud penurunan semangat dari tekad yang tinggi.”
.
Masing-masing dari keduanya mengutamakan pilihannya. Kedudukan mereka bergantung pada kepada siapa dan kepada apakah ia bersandar dalam meraih tujuan. Sebab, ketika seseorang bersandar kepada sesuatu maka ia akan mengabaikan yang lainnya. Berkaitan dengan hal ini manusia terbagi tiga golongan.
.
Pertama, orang yang ditempatkan pada wilayah asbab (manetapi sebab-sebab yang mengantarkannya pada tujuan). Mereka yang ditempatkan di sini harus rida, sabar, dan pasrah. Tanda kelompok ini adalah istikamah menetapi asbâb serta istikamah menegakkan berbagai kewajiban syariat.
.
Kedua, mereka yang ditempatkan pada wilayah tajrîd (mengabaikan asbâb). Orang yang ditempatkan di wilayah ini harus bersyukur, banyak beramal, serta tidak lalai. Tanda mereka adalah menunaikan kewajiban dan berpaling dari makhluk.
.
Ketiga, mereka yang tidak termasuk dalam salah satu dari keduanya. Orang yang berada di wilayah ini harus berusaha memastikan dengan berpindah dari satu sebab ke sebab yang lain. Ketika tidak istikamah pada satu sisi, ia bisa berpindah pada kebalikannya. Sebab, tanda bahwa Allah memberikan posisi tertentu kepada seseorang adalah ketika ia bisa istikamah dalam posisi itu. Jika ia masih berpindah-pindah dari satu posisi ke posisi lainnya berarti ia belum ditempatkan pada posisi yang kokoh.
.
Dalam kitab al-Tanwir Ibnu ‘Athaillah mengatakan, “Allah menuntut darimu untuk berada di tempat yang Dia tetapkan hingga Dia sendirilah yang mengeluarkanmu sebagaimana Dia memasukkanmu. Hal yang penting bukanlah bagaimana kau meninggalkan asbâb, melainkan bagaimana kau ditinggalkan oleh asbâb.”
.
Seorang sufi mengatakan, “Beberapa kali aku meninggalkan asbâb (sebab-sebab menuju suatu tujuan), tetapi aku selalu kembali kepadanya. Namun, ketika ditinggalkan oleh asbâb, aku tidak pernah kembali kepadanya.”
.
Ketika ditinggalkan asbâb, seseorang tidak lagi menetapi asbâb sehingga ia pada akhirnya ditempatkan pada posisi tajrîd. Pengertian tajrîd adalah keadaan seseorang yang meninggalkan asbâb. Sebaliknya, pengertian asbâb adalah keadaan seseorang yang melakukan berbagai upaya lahiriah untuk mencapai tujuan.
.
Syahwat adalah gejolak nafsu untuk meraih apa yang diinginkan. Dikatakan di atas bahwa itu merupakan syahwat yang samar karena gambaran sesuatu yang diinginkan, yaitu tajrîd, secara lahiriah memang tampak menyakitkan karena harus meninggalkan kebiasaan dan melawan keinginan, tetapi di dalamnya terdapat keinginan untuk mendapatkan ketenangan, kelapangan, dan kebebasan dari taklif.
.
Makna inhithâth adalah turun dari keadaan atau tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.
.
Himmah adalah tekad atau cita-cita dan semangat diri untuk mencapai tujuan tertentu. Tinggi rendahnya tekad tergantung kepada tinggi rendahnya tujuan yang ingin dicapai.
.
Penyebab ahli tajrid mengalami penurunan himmah adalah karena ia mengganti keadaan lapang dengan penat, ketenangan dehgan kekacauan, serta menjatuhkan diri pada sesuatu yang bisa merusak dengan bergaul bersama makhluk dan menjauhkan diri dari Cahaya. Karena itu, dikatakan bahwa orang yang masih tetap bersama musuh di wilayah asbâb, berarti ia memiliki tekad yang rendah.

Selanjutnya, penting diingat bahwa kehendak hamba tidak memiliki nilai apa-apa karena ia sangat bergantung pada kehendak Tuhan. Maka, jika seorang hamba sibuk menghendaki kedudukan yang tidak diberikan Tuhan, berarti ia telah berlaku buruk (su’ al-adab) kepada-Nya. Sikap dan perilaku seperti itu tentu saja tidak memberi manfaat sedikit pun. Penjelasan tentang hal ini disampaikan oleh Ibnu ‘Athaillah dalam hikmah berikutnya.
.
Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *