Conscious Stream of Writing

Al Hikam Ibn Atha’illah Notes #03

Tekad (himmah) yang tinggi tidak bisa menembus benteng takdir.

Antecedent intentions (sawabiq al-himam) cannot pierce the wall of predestined Decrees

Segala sesuatu di semesta ini berjalan sesuai dengan takdir Allah, sebagaimana ditunjukkan oleh akal, syariat, dan nash-nash agama. Allah berfirman: “Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. 18:45)

Nabi SAW bersabda, “Segala sesuatu terjadi dengan qada dan qadr-Nya, termasuk yang lemah dan cekatan.” (HR. Muslim)

Tekad adalah kekuatan jiwa yang memengaruhi segala sesuatu. Para sufi menyebutnya dengan himmah.

Tekad (himmah) terbagi ke dalam tiga tingkatan. Pertama, tekad yang rendah, yaitu tekad yang melahirkan keinginan dan semangat tetapi tidak disertai upaya nyata (tahaqquq).
Kedua, tekad yang pertengahan, yaitu tekad yang melahirkan keinginan dan perbuatan, entah disertai dengan semangat realisasi atau tidak.
Ketiga, temad yang tinggi, yaitu kekuatan dalam diri yang terus muncul dan aktif menggerakan tanpa pernah berhenti. Himmah seperti inilah yang dimiliki para pendengki yang tidak berhenti melakukan keburukan, juga para penyihir yang terus meniupkan buhul, para perindu Tuhan yang terus membersihkan diri dan mewujudkan keyakinan mereka. Semangat golongan ini terus aktif seraya tetap mentapi qada dan qadar Allah. Namun, setinggi apapun himmah mereka, ketetapan dan keputusan ada di tangan Allah: “Mereka tidak bisa menimpakan bahaya kepada siapapun kecuali dengan izin Allah.” (Q.S. 2:103)
Suatu tekad disebut tinggi dan menembus dilihat dari sisi keagungannya, bukan dilihat dari waktu terwujudnya tekad itu. Sementara, keagungannya terkait dengan efektivitas pengaruhnya yang mewujud tanpa membutuhkan sebab tertentu. Apabila tekad yang tinggi saja tidak bisa menembus tirai takdir apalagi pengaturan dan kehendak hamba. Sama halnya, perilaku dan tindakan hamba yang paling luhur dan paling mulia sekalipun tidak akan menembus apalagi mengoyak tirai takdir.

Hikmah ini ditujukan untuk mendinginkan api ketamakan yang menyala-nyala di dalam hatimu yang selalu yakin bahwa segala sesuatu itu bergantung pada usahamu senditi dan pasti berhasil. Karena itu, Ibn Athaillah melanjutkan penjelasannya dengan mengatakan: (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *